Surat Putus Cinta Seorang Suami yang Susah Move On

Putus cinta karena ditolak itu biasa. Putus cinta dari istrinya karena kekasih hatinya ini meninggal, lalu susah move on dari cintanya yang terpaksa pupus itu baru luar biasa. Apalagi kalau lelaki ini mengekspresikan patah hatinya ke dalam bentuk surat.

Jika di Indonesia ada kisah cinta Habibie dan Ainun yang menyentuh banyak orang. Kita bisa melihat kisah cinta serupa di banyak pasangan lainnya. Salah satunya di pemenang nobel fisika, Richard Feynman. Unik kan, Feynman dan Habibie sama-sama ilmuwan. Walau karier Habibie ternyata lebih variatif dari Feynman.

Richard Feynman menikah dengan Arline. Richard dan Arline itu pasangan jiwa. Mereka berdua bukanlah hasil kloning dari satu sama lain, namun simbiosis yang berlawanan—yang satu melengkapi yang lainnya, begitu juga sebaliknya.

Arline mengagumi kecerdasan sains Richard yang mengagumkan. Richard juga jelas-jeolas mengagumi fakta kalau Arline mencintai dan memahami hal-hal yang sulit dia apresiasi saat itu. Namun apa pun yang mereka bagikan, sebagian besarnya, adalah kecintaan akan kehidupan dan semangat petualangan.

Richard dan Arline sering saling bertukar surat. Banyak dari surat-surat itu dituliskan di buku Perfectly Reasonable Deviations from the Beaten Track.

Layaknya Habibie, surat terbaik Richard untuk Arline itu bisa dibilang ditulis bukan saat istrinya masih hidup. Surat terbaik itu Richard tuliskan 16 bulan setelah kematian istrinya.

Richard Feynman dan Arline

Baca juga artikel-artikel surat cinta berikut ini:

Surat putus cinta seorang pemenang Nobel Fisika

17 Oktober 1946

Dear Arline,

Aku mengagumimu, sweetheart.

Aku tahu betapa kamu suka mendengarnya—tapi aku tidak menuliskan kalimat itu hanya karena kamu menyukainya—aku menuliskannya karena itu membuatku merasa dadaku terasa hangat. Ya, hanya dengan menuliskannya.

Sudah lama sekali sejak kali terakhir aku menuliskan surat untukmu—hampir 2 tahun tapi aku tahu kamu akan memaafkanku karena kamu mengerti betapa aku ini sangat keras kepala dan terlalu realistis. Bahkan kupikir tidak ada gunanya menuliskan surat seperti ini.

Tapi sekarang aku tahu wahai istriku tersayang. Aku tahu kalau sudah benar aku perlu melakukan hal yang sudah kutunda lama sekali. Aku perlu melakukan hal yang sudah sering kulakukan di masa lalu. Aku ingin mengatakan padamu kalau aku mencintaimu. Aku mau mencintaimu. Aku selalu mencintaimu.

Kepalaku sulit merasa memahami apa artinya mencintaimu lama setelah kamu meninggal—tapi aku masih ingin menghiburmu dan juga merawatmu—dan aku mau kamu mencintai dan merawatku. Aku mau mendiskusikan masalah-masalah denganmu. Aku mau melakukan proyek kecil-kecilan denganmu.

Tak pernah terlintas dalam pikiranku kalau kita bisa melakukannya. Apa yang harus kita lakukan. Kita dulu mulai belajar untuk membuat pakaian bersama-sama, atau belajar bahasa Tiongkok, atau menonton film bersama-sama.

Tak dapatkah kulakukan sesuatu sekarang? Tidak. Aku sendiri tanpamu dan kamulah si wanita penuh ide dan juga si penghasut yang membujuk ke semua petualangan liar kita.

Saat dulu kamu sakit, kamu khawatir karena kamu tidak bisa memberiku apa yang ingin kamu berikan dan juga kamu pikir kubutuhkan.

Kamu tidak perlu khawatir. Seperti yang sudah kubilang padamu, tidak ada yang kubutuhkan karena aku sangat mencintaimu. Dan sekarang bahkan menjadi tampak jauh lebih jelas. Kamu bisa saja tidak memberiku apa pun sekarang namun aku mencintaimu sampai-sampai kamu menghalangiku dari mencintai berbagai hal lainnya. Tapi aku mau kamu berdiri di sana. Kamu, yang sudah wafat, jauh lebih baik daripada siapa pun yang masih hidup.

Aku tahu kamu akan meyakinkanku kalau aku ini bodoh. Aku tahu juga kalau kamu ingin aku benar-benar bahagia seutuhnya. Aku juga tahu kalau kamu tidak ingin menghalangi jalan hidupku.

Aku berani bertaruh kamu akan terkejut kalau aku bahkan sekarang tidak punya pacar (kecuali kamu, sayang) setelah 2 tahun. Tapi kamu tidak bisa menghentikannya, Sayang, aku juga tidak bisa.

Aku tidak memahaminya. Saat ini aku sudah bertemu banyak wanita dan mereka sangatlah cantik. Aku juga tidak ingin sendirian. Tapi setelah dua atau tiga kali bertemu, wanita-wanita ini seperti debu yang tertiup angin. Hanya kamulah yang tersisa untukku. Kamulah yang nyata.

Istriku yang kusayangi, aku mengagumimu.

Aku mencintai istriku. Istriku sudah meninggal.

 

Rich

PS: maaf karena aku tidak mengirimkan surat ini, tapi aku tidak tahu di mana alamat barumu.